Think Global Act Local

by Alisjahbana Haliman
April 17, 2020

Terkadang kita berpikir, “Apa yang bisa kita lakukan untuk alam?”. Terdengar mengawang – awang namun sebenarnya pertanyaan itu adalah hal paling mendasar yang harus ada dalam setiap manusia. Ketika para pembuat kebijakan tidak menempatkan perubahan iklim sebagai prioritas nasional, setidaknya kesadaran bisa dimulai dari diri kita sendiri.

Di Talasi, kami coba dengan meminimalisir material yang digunakan dalam pengiriman produk kami kepada pembeli. Plastik adalah material yang paling lama kelangsungan hidupnya karena bisa didaur ulang hingga berkali – kali. Namun, karena sistem pengelolaan sampah yang tidak sempurna dan kesadaran untuk memilah sampah di rumah tangga masih sangat rendah maka sampah plastik dijadikan musuh utama.

Kami menggunakan bahan ramah lingkungan dalam packaging produk yang bisa seharusnya bisa digunakan berkali – kali. Maka kami memohon bagi para pendukung setia Talasi, untuk bisa menerapkan 3R: reduce, reuse, recycle di rumah masing – masing pada setiap produk kemasan termasuk dari Talasi. Dalam edisi ini kami juga berbagi informasi, tips, dan cerita tentang cara mudah mencintai dan menghargai alam dari diri sendiri. Karena planet bumi hanya satu dan kita semua hanya hidup sekali. Jadi buatlah kehidupan ini yang terbaik bagi semua.

Potato Head Family adalah salah satu dari sedikit perusahaan di bidang hospitality dan Food & Beverage yang menerapkan sustainability dalam business modelnya. Mereka bahkan menerapkan restoran zero waste di dalam Hotel Katamama di Bali. Di dalam fasilitas Potato Head bali pun terdapat bank sampah dimana mereka kelola sendiri sampah daur ulang mereka, baik dari restoran, beach club dan hotel. Bahkan mereka membuat berbagai peralatan dari mulai tatakan gelas hingga kursi dari olahan sampah plastik sendiri di dalam fasilitas mereka. Kami berbincang dengan Ratna Kartadjoemana, Impact Investor dan Partner Potato Head Group dan salah satu #FriendsofTalasi yang bercerita bagaimana memulai, menerapkan dan menginspirasi hidup berkelanjutan dalam bisnis dan personal.

Apa sih tantangan terbesar ketika Potato Head menerapkan sustainable business practice? Dan seperti apa transformasinya?

Banyak yang berpikir sustainable practices hanya menambah cost, bukannya justru membuat cost savings atau return to investmentnya terlalu lama. Awalnya banyak yang tidak percaya dengan melakukan sustainable itu justru baik untuk brand, dan dari situ kita akan mendapat pengikut dan loyal customers lebih banyak. Banyak proyek – proyek awal yang susah get off the ground karena Doing Good belum masuk ke dalam values perusahaan. Padahal antara para pendiri / pemilik perusahaan selalu berbicara akan menggunakan perusahaan kita untuk membantu masyarakat sekitar, termasuk menjaga lingkungan hidup. Namun, saat itu belum ada values perusahaan yang menjelaskan ini. Kalau tidak ada yang tertulis, dilatih secara berkelanjutan, kemudian  dipraktekkan hingga digembleng dalam semua komunikasi dengan para pegawai akan sulit sekali para pimpinan mengambil keputusan yang mementingkan misi ini. Apalagi masa itu, belum banyak publik sadar tentang sampah plastik yang ada di laut makin parah, kemudian masalah sampah dan sustainability belum jadi topik pembicaraan. Kami terus memperbaiki visi, misi, dan nilai – nilai perusahaan dan selalu berusaha keras untuk mengajarkan dan memberikan contoh kepada semua pemimpin dan pegawai. Begitu pemimpin mulai paham, kemudian mencontohkan dan mengambil keputusan sesuai values, roda berputar dan semakin cepat menjadi company culture.

Ratna dan 2 teman sedang membangun urban farm di Jakarta, apa yang jadi motivasi?

Sebenarnya sudah jadi impian saya selama bertahun – tahun untuk bercocok tanam. Awalnya pada tahun 2007 di kala ingin membangun sustainable resort. Lalu tahun 2010-an sewaktu tinggal di New York City, urban farm lagi hits tuh. Saya jadi terinspirasi ingin membuat sendiri. Kalau Potato Head, dari dulu memang sudah bermimpi memiliki  farm sendiri. Belum kesampaian nih karena ladang pertanian tidak masuk dalam rencana property yang ada. Nah, justru karena pandemi Covid-19 team kami di Bali mulai bercocok tanam. Secara pribadi dalam beberapa tahun ini sudah gatel banget ingin urban farming sendiri di Jakarta, tapi tidak ada lahan. Ini yang namanya blessing in disguise, gegara pandemi beruntung bisa dapat lahan yang sesuai dan dekat rumah, dan somehow ada teman yang memiliki ketertarikan serupa. Mulai deh kami coba -coba metode permaculture tapi di urban environment. Baru mulai nih, jadi doain ya semoga berhasil. (icon fingers crossed dan emoticon praying)

Apa hal yang menurut Ratna wajib banget (dan mudah) untuk setiap orang Indonesia lakukan sebagai bentuk eco-friendly living?

Paling mudah tapi menantang adalah meminimalisir sampah. Mulai dengan pertanyaan – pertanyaan ini pada diri sendiri: “apakah saya benar – benar butuh (barang ini)?, bisa diperbaiki kah dan bisakah digunakan kembali?, apakah buatan lokal, menggunakan material yang natural, dan tahan lama?, berapa banyak lapisan packaging yang akan saya terima jika saya beli?, bagaimana saya akan membuangnya yang bertanggung jawab tanpa menambah lapisan sampah di TPA?”

Kemudian, daur ulang. Sudah banyak pengepul formal yang bisa membantu kita untuk mengolah sampah rumah tangga dan mengambil dari rumah setelah dipilah dan dibersihkan, misalnya Waste4Change dan KDM Green Project.

Link untuk ditautkan dalam kata Waste4Change >> https://waste4change.com/official/service/personal-waste-management

Link untuk ditautkan dalam kata KDM Green Project >> https://www.instagram.com/kdmgreenproject/?hl=en

Membuat kompos di rumah. 60% sampah yang ada di TPA adalah sampah organik. Bayangkan kalau kita pilah sampah kita, yang organik kita olah sendiri di rumah, berarti 60% sampah berkurang dari TPA. Belum lagi sampah dari bahan yang bisa didaur ulang lebih mudah untuk didaur ulang karena tidak dikotori oleh sampah organik.

Tips dan info penting yang saya dapat dari teman saya Jessica Halim, founder demibumi (link untuk ditautkan>> https://demibumi.id/ ) adalah membuat sabun lerak untuk mencuci baju, piring, hingga pembasmi hama. Lerak ini adalah sabun organik natural. Sangat aman bagi kulit dan air bekas cucian kita tidak merusak sungai, laut hingga organisme di dalamnya. Lerak tidak terbungkus, jadi kita mengurangi sampah kemasan. Plus, kita jadi berhemat karena buah lerak harganya murah. Dengan sedikit saja sudah bisa menghasilkan sabun yang sangat banyak jadinya irit gak perlu beli berbagai tipe sabun. Saat ini, Lerak diekspor  ke Australia dan Jepang loh. Padahal di negara kita sendiri pasti belum banyak yang tahu kan tentang Lerak. Padahal jaman dulu nenek moyang kita pakai Lerak bukan hanya untuk mencuci batik, tapi juga untuk mencuci rambut!

Tips Meminimalisir Sampah dengan Produk Talasi

Reduce

Teh yang sudah digunakan bisa dipakai sebagai pupuk tanaman, membuat scrub (dicampur dengan madu dan minyak zaitun), atau membuat masker sendiri (dicampur madu).

Reuse

  • Menggunakan botol madu WATU untuk pot sisa sayuran untuk membuat benih sayuran baru seperti daun bawang, seledri, stek alpukat. Bahkan botol madu ini bisa dibuat untuk akuarium ikan cupang! Jangan lupa masukan tanaman sirih gading yang baik sebagai penetral air.
  • Menggunakan botol kecil minyak telon dan minyak kayu putih TOYE untuk ramuan essential oil buatan sendiri.
  • Menggunakan jar cashew butter menjadi tempat homemade scrub, masker, bumbu, dan sebagainya.
  • Botol semprot room mist dan sanitizer bisa dijadikan botol semprot untuk bug spray dan sanitizer buatan sendiri, atau bahkan surface spray homemade.
  • Botol konsentrat dan ekstrak bisa digunakan untuk bumbu racikan dapur seperti bumbu BBQ, sup, nasi goreng, dan sebagainya.

Recycle

Packaging kacang mete, teh, dan gula lontar dipilah, dicuci, dikeringkan sampai bersih. Sebelumnya jangan lupa untuk mencopot stikernya karena berbeda jenis sampah. Kemudian berikan kepada pengepul formal (cek artikel wawancara dengan Ratna Kartadjoemana sebelumnya) atau diberikan langsung pada pemulung di sekitar rumah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

How can I contribute? How do we create a better livelihood? How can we use the abundant natural resources and add more value to their lives. This was my purpose calling and I have spent my adult life in the business of adding value to Indonesian natural resources. 

After a few days in Sumba, I was reenergized and felt the urge to start a new journey. This new endeavor will be different. This time I intended to bring more power to the smallholders and farmers in creating a sustainable chain that can give value and impact on their lives. And I named this enterprise Talasi which in sanskrit depicts trees that always bear flowers, fruits and new leaves, and a sweet fragrance or cornflower in Latin America.

Talasi is about exploring and discovering the potential in the obscurity. Talasi is about setting up and operating at the Origin. Talasi is about working with the community, providing them with knowledge, skills and tools. Investing at the grassroots level and connecting the chain to sustain and maintain nature while enhancing livelihoods. With the end game of empowerment to the people of the land.

With the creation of our premium honest brands, Watu and Toye across food and natural ingredient products, everyone can be part of this vision with each purchase in support of the same values and mission to empower the grassroots communities.

We will soon complete our full facilities and retreat in Sumba which is currently roasting our Watu cashews. And our Batukaru Talasi Retreat, Bali opened earlier this year with Flores next in line.

I am excited about what the future holds for “the Origin” and I would like to take this opportunity to extend my personal humble invitation to each and everyone you to visit us and “Experience Talasi”.

Let’s discover the Origin,
Alisjahbana Haliman
Founder