The Better Normal

by Talasi Word
January 26, 2021

Dunia (pun) Butuh Nyepi

Ignatia Herti – Your Sourcing Lady @ Talasi Batukaru, Bali

Nyepi tahun ini berbeda. Tidak ada pawai ogoh-ogoh, tanpa upacara besar di pura, bahkan Nyepi diperpanjang dua hari. Apalagi penyebabnya kalau bukan Pandemi Covid-19. Begitu informasi virus Corona sedang hangat – hangatnya, Kepala Desa Wanagiri langsung menetapkan desa harus tutup 14 hari. Meski persediaan logistik terbatas, tapi karena tinggal di desa, banyak tumbuhan dan buah yang bisa dikonsumsi. Warga disini biasa makan apa yang ditanam. Sebenarnya, lockdown mandiri untuk warga desa berat banget. Dan di bulan Maret pas musim durian dan manggis yang tidak bisa dijual karena kita tidak bisa kemana – mana. Tapi warga nurut, bahkan mereka turun tangan untuk jaga supaya warga disiplin dan tidak ada pendatang yang masuk. Para ibu juga rajin kirim makanan ke berbagai pos jaga. Agar warga tidak kekurangan bahan pangan, Kepala Desa membangun posko sembako. Terasa banget semangat gotong royong yang sangat Indonesia. Hasilnya, hingga tulisan saya diturunkan, seluruh warga dinyatakan bebas Corona. 

Terbatasnya mobilitas membuat saya memahami filosofi Nyepi, dimana kita harus banyak berkontemplasi dan kembali ke alam. Saya jadi belajar tentang manajemen waktu. Setiap malam saya buat jadwal untuk esok hari yang saya bagi lima: jadwal, to-do list, goals, motivasi, dan happiness. Ternyata dengan menuangkan ke tulisan, saya jauh lebih efektif membagi waktu. Bahkan saya bisa ikut kelas online gratis yang diselenggarakan berbagai universitas ternama. Selain itu, semangat kebersamaan dan hubungan antar manusia yang selama ini terdistorsi oleh berbagai hal duniawi jadi terajut lagi karena kita semua merasakan tantangan yang sama. Saya merasa karantina mandiri ini kayak Hari Raya Nyepi. Jujur, banyak aktivitas yang saya kangen.  Namun ternyata banyak yang saya abaikan seperti gotong royong sama warga, kemudian mengandalkan halaman belakang untuk jadi sumber makanan, kok ternyata sesuatu banget.  Mungkin kita semua memang butuh Nyepi. 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

How can I contribute? How do we create a better livelihood? How can we use the abundant natural resources and add more value to their lives. This was my purpose calling and I have spent my adult life in the business of adding value to Indonesian natural resources. 

After a few days in Sumba, I was reenergized and felt the urge to start a new journey. This new endeavor will be different. This time I intended to bring more power to the smallholders and farmers in creating a sustainable chain that can give value and impact on their lives. And I named this enterprise Talasi which in sanskrit depicts trees that always bear flowers, fruits and new leaves, and a sweet fragrance or cornflower in Latin America.

Talasi is about exploring and discovering the potential in the obscurity. Talasi is about setting up and operating at the Origin. Talasi is about working with the community, providing them with knowledge, skills and tools. Investing at the grassroots level and connecting the chain to sustain and maintain nature while enhancing livelihoods. With the end game of empowerment to the people of the land.

With the creation of our premium honest brands, Watu and Toye across food and natural ingredient products, everyone can be part of this vision with each purchase in support of the same values and mission to empower the grassroots communities.

We will soon complete our full facilities and retreat in Sumba which is currently roasting our Watu cashews. And our Batukaru Talasi Retreat, Bali opened earlier this year with Flores next in line.

I am excited about what the future holds for “the Origin” and I would like to take this opportunity to extend my personal humble invitation to each and everyone you to visit us and “Experience Talasi”.

Let’s discover the Origin,
Alisjahbana Haliman
Founder